Mengukur Kekuatan The New Prabowo di Pilpres 2019

Prabowo Subianto disebut akan tampil beda di Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 nanti. Jika selama ini mantan Komandan Jenderal Kopassus itu identik dengan kemeja putih berkantong 4, ke depan hal itu sepertinya akan berkurang dan berganti-ganti dengan pakaian model lain yang lebih milenial.

Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahudin Uno menyebut Ketua Umum Partai Gerindra itu akan tampil dalam gaya baru, The New Prabowo. Lebih luwes dalam berpakaian agar lebih fashionable dan menarik generasi milenial.

Seberapa kuat The New Prabowo?

Menurut pakar komunikasi politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Nyarwi Ahmad, The New Prabowo merupakan personal political re-branding yang bagus. Political re-branding biasanya dipakai oleh partai politik. Seperti di Inggris ketika Labour Party menjadi The New Labour Party di era Tony Blair.

Di Indonesia fokus political re-branding digunakan juga oleh politikus yang sedang berlaga di Pemilu. Seperti yang akan dilakukan Prabowo Subianto. “Makanya Prabowo jadi The New Prabowo,” kata Nyarwi saat berbincang dengan detikcom, Kamis (23/8/2018).

Hanya menurut dia, political re-branding pada institusi politik dengan individu politikus memiliki tantangan yang berbeda. Untuk partai politik lebih dapat dikelola karena elemen-elemen brand tidak hanya terkait dengan aspek yang terlihat saja. Semisal, logo yang bisa dimodifikasi. Tetapi juga pada aspek platform politik dan orientasi kebijakan politiknya dalam spektrum ideologi dalam sistem kepartaian.
“Di negara-negara dengan spektrum ideologi kepartaian seperti itu. Seperti di Eropa Barat political re-branding lebih mudah dilakukan dan dapat menarik perhatian atau bahkan mempengaruhi orientasi perilaku pemilih ke parpol,” papar Nyarwi yang juga Direktur Presidential Studies-DECODE UGM itu.

Dalam konteks Indonesia, lanjut Nyarwi, personal political branding yang dilakukan oleh Prabowo memiliki tantangan cukup besar. Soal ganti penampilan, seperti baju atau bahkan style dengan menyesuaikan gaya milenial tidak terlalu sulit.
Namun personal re-branding tidak hanya terkait dengan soal ganti penampilan.

Track record personal seorang politikus juga akan mempengaruhi personal political branding. Khususnya menyangkut sejarah dan politik masa lalu sebelumnya yang masih diingat oleh sejumlah pemilih. Terkait Prabowo, kata Nyarwi, ada gaya retorika personal dia juga yang sudah lama dikenali oleh pemilih.
Bahkan ke khasan suara dan intonasi dia yang sudah kadung akrab di telinga pemilih.

“Rebranding harus dilakukan secara smooth Kalau New Prabowo terlalu kontras dengan Old Prabowo pemilih lama bisa jadi mengangapnya sebagai sosok baru yang aneh,” papar Nyarwi.

Facebook Comments

Previous Article
Next Article