Kata Dokter Paru Soal Anggapan Perokok ‘Selamatkan’ BPJS Kesehatan

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyatakan, besaran cukai dan total ongkos pengobatan akibat rokok tak sebanding. Besaran cukai lebih kecil daripada biaya kuratif yang kini menjadi tanggungan BPJS Kesehatan.

Beberapa penyakit akibat rokok yaitu gangguan jantung, stroke, dan kanker tercatat paling banyak menghabiskan dana BPJS Kesehatan tiap tahun.

Potensi cukai rokok sebesar Rp 1,48 triliun hanya bisa menyelematkan BPJS Kesehatan sementara waktu. Dengan fakta tersebut, tak tepat bila dikatakan cukai rokok telah menyelamatkan BPJS Kesehatan.

“Statement seperti ini perlu diluruskan,” kata dokter ahli paru yang juga ketua PDPI Agus Dwi Susanto, Jumat (21/9/2018).
Agus mengatakan, penggunaan dana cukai tak bisa dilihat sebagai upaya penuelamatan BPJS Kesehatan.

Penggunaan dana tak lantas membatasi akses, atau mengurangi potensi kenaikan jumlah perokok. Artinya, rokok tetap mudah diakses seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Terlepas dari usia, kekuatan ekonomi, latar belakang, dan jenis kelamin.

Hal ini mengindikasikan, jumlah perokok bisa terus meningkat tiap tahunnya. Sementara, penggunaan dana cukai hanya menutup sebagian dari dampak buruk merokok.

Hal ini mengindikasikan, besar kemungkinan BPJS Kesehatan akan mengalami kondisi serupa saat ini di kemudian hari akibat rokok.

Dengan fakta ini, biaya pengobatan akibat rokok tak mungkin bisa diatasi selama kebiasaan tersebut masih dilakukan.

Besarnya ongkos terapi hanya bisa ditekan dengan menghindari rokok sama sekali.

Perokok aktif dan pasif harus segera menghentikan gaya hidup buruk tersebut, sebelum kesehatannya dan produktivitasnya turun.

Facebook Comments

Previous Article
Next Article